Anak Kelas XII Bingung Pilih Jurusan? Psikolog UNY: Orang Tua Perlu "Ganti Lensa" Dulu

Fakultas Psikologi UNY gandeng SMA Negeri 1 Wonosari gelar psikoedukasi pengasuhan berbasis kekuatan karakter, bekali orang tua siswa hadapi musim ujian dan masa penentuan jurusan kuliah.

 

WONOSARI — Musim ujian selalu jadi masa yang bikin rumah terasa lebih tegang. Anak sibuk belajar sekaligus galau soal masa depan, orang tua ikut cemas tapi sering bingung bagaimana caranya membantu tanpa menambah beban. Situasi inilah yang coba dijawab lewat program psikoedukasi "Semakin Dekat, Semakin Menguatkan" yang digelar Fakultas Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) bersama SMA Negeri 1 Wonosari pada Kamis, 30 Juli 2026, khusus untuk orang tua siswa.

Bertempat di lingkungan SMA Negeri 1 Wonosari, kegiatan ini menghadirkan psikolog sekaligus dosen Fakultas Psikologi UNY, Wresti Wrediningsih, sebagai narasumber utama. Ia didampingi tiga fasilitator yang juga berlatar psikolog dan dosen Psikologi UNY: Kumala Widya Rochmani, A’yunin Akrimni Darojat, dan Ika Wahyu Pratiwi.

Acara dibuka secara resmi oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Bapak Aris, didampingi Koordinator Bagian Kerja Sama, Bapak Anang Saputro. Dalam sambutannya, pihak sekolah menyampaikan bahwa program semacam ini melengkapi upaya sekolah mendampingi siswa, khususnya di tengah tekanan akademik menjelang kelulusan.

Kenapa Kita Lebih Gampang Lihat Kekurangan Anak?

Wresti membuka sesi dengan pertanyaan sederhana yang ternyata bikin banyak orang tua terdiam: "Waktu terakhir kali buka rapor anak, mata siapa yang duluan lihat nilai paling jelek?"

Menurutnya, refleks itu bukan tanda orang tua tidak sayang. "Otak kita memang didesain lebih cepat menangkap masalah dibanding hal baik. Itu namanya negativity bias. Tapi kalau ini jadi kebiasaan terus-menerus, lama-lama anak merasa orang tuanya cuma lihat kekurangannya," ujarnya.

Pendekatan yang diperkenalkan dalam sesi ini disebut Strength-Based Parenting, sebuah gaya pengasuhan yang secara sengaja melatih orang tua mengenali dan menguatkan kekuatan karakter anak, alih-alih hanya berfokus mengoreksi kesalahan. Riset internasional yang dipaparkan dalam sesi tersebut menunjukkan, remaja yang kekuatannya dikenali orang tua cenderung lebih percaya diri, lebih tahan menghadapi tekanan, dan memiliki relasi yang lebih dekat dengan orang tuanya.

Bukan Sekadar Teori, Peserta Diajak Langsung Praktik

Berbeda dari seminar pada umumnya, seluruh peserta dilibatkan aktif sepanjang tiga jam kegiatan. Mengikuti prosedur modul yang telah disusun tim fasilitator, orang tua diajak bermain peran, melakukan refleksi pribadi, hingga berbagi pengalaman pengasuhan dalam kelompok kecil.

Salah satu aktivitas yang paling banyak memantik diskusi adalah simulasi "bertahan di titik sulit" — orang tua berlatih merespons anak yang sedang defensif atau menutup diri, sebuah situasi yang menurut para fasilitator sangat akrab dialami orang tua remaja SMA.

"Anak remaja tidak selalu merespons manis, bahkan kadang menolak. Tapi orang tua yang tetap konsisten hangat di momen itu, itulah yang bikin anak percaya bahwa orang tuanya tidak akan pergi saat ia sedang susah," jelas salah satu fasilitator dalam sesi refleksi kelompok.

Kabar Baik untuk Orang Tua Siswa Kelas XII

Bagi orang tua siswa kelas XII, program ini menghadirkan satu sesi khusus yang tidak kalah penting: mendampingi anak memilih arah studi lanjut atau karier berdasarkan kekuatan yang dimiliki, bukan sekadar mengikuti jurusan populer atau tekanan sosial semata.

Riset yang dipaparkan dalam sesi ini menunjukkan, remaja yang memandang keputusan besar seperti pemilihan jurusan sebagai peluang untuk berkembang, dan merasa memiliki kendali atas pilihannya sendiri, cenderung memiliki orientasi masa depan yang lebih positif dan lebih tenang menghadapi masa transisi menuju perguruan tinggi.

Dalam sesi ini, orang tua dibekali satu alat sederhana bernama "Kompas Kekuatan Karier" untuk memetakan kekuatan anak dan mengaitkannya dengan kemungkinan arah studi. Orang tua juga dilatih menyusun satu pertanyaan pembuka yang lebih memberdayakan untuk mengawali obrolan soal masa depan dengan anak, misalnya menanyakan bidang apa yang membuat anak paling merasa hidup, dibanding langsung bertanya atau bahkan menentukan jurusan apa yang harus dipilih.

"Anak kelas XII itu sedang menanggung banyak sekali tekanan sekaligus: ujian, ekspektasi keluarga, dan ketidakpastian soal masa depan. Cara orang tua merespons di titik ini benar-benar menentukan apakah anak akan merasa didukung, atau justru makin terbebani," kata Wresti.

Kata Orang Tua yang Ikut Langsung

Antusiasme itu tercermin dari lembar evaluasi yang diisi peserta usai kegiatan. Beberapa di antaranya menuliskan kesan yang cukup dalam soal bagaimana cara pandang mereka terhadap anak mulai bergeser.

"Saya sedang membutuhkan kekuatan untuk memberikan semangat kepada anak saya yang akan menghadapi UTBK."

— Maharani, orang tua siswa kelas XII

 

"Saya sebagai orang tua sedang belajar tidak menuntut kepada anak. Ternyata ketika kita mulai melihat kekuatan anak, kita bisa lebih tenang."

— Fen, orang tua siswa kelas XII

 

Ada juga yang menyimpulkannya dalam satu kalimat sederhana: "Belajar parenting itu sepertinya gampang, tapi sulit dilakukan," tulis Zul, salah satu peserta. Sementara Yuli, orang tua siswa lain, menilai kegiatan ini "memberikan edukasi kepada orang tua khususnya kelas XII dalam menghadapi kelanjutan studinya" — persis menyasar kebutuhan yang selama ini jarang tersentuh program parenting pada umumnya.

Mengubah Kebiasaan Kecil, Dampak Besar

Menjelang penutupan, seluruh peserta menuliskan komitmen pribadi berupa satu langkah kecil yang akan mereka coba terapkan bersama anak dalam sepekan ke depan. Sebagian peserta juga saling bertukar kontak sebagai bentuk dukungan sesama orang tua, sebuah mekanisme yang dirancang tim fasilitator agar semangat yang terbangun selama pelatihan tidak berhenti begitu kegiatan usai.

Pihak sekolah menyambut baik antusiasme para orang tua sepanjang kegiatan dan berharap program semacam ini dapat terus berlanjut, seiring dengan upaya sekolah membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya berfokus pada capaian akademik, tetapi juga kesejahteraan psikologis siswa secara menyeluruh.

Program "Semakin Dekat, Semakin Menguatkan" merupakan bagian dari kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang diinisiasi Fakultas Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta, dengan sasaran memperkuat peran keluarga dalam mendukung kesejahteraan psikologis remaja Indonesia.