Keterlibatan Mahasiswa dalam Visiting Professor: Pengalaman Akademik Lintas Budaya

Suksesnya penyelenggaraan program Visiting Professor Outbound UNY di UPSI pada 2–3 April 2026 tidak dapat dilepaskan dari ekosistem keterlibatan total yang melibatkan seluruh elemen sivitas akademika. Lebih dari sekadar aktivitas dosen tamu, rangkaian acara ini dirancang sebagai pengalaman imersif multidimensi yang mencakup partisipasi aktif mahasiswa dan pertukaran praktik terbaik di kalangan tenaga kependidikan. Pendekatan holistik inilah yang membedakan program ini dari sekadar kunjungan akademik biasa.

Mahasiswa UNY yang tergabung dalam program mobilitas tidak hanya menjadi audiens pasif. Mereka mengambil peran sentral sebagai duta kampus sekaligus fasilitator lapangan. Pada hari pertama, para mahasiswa dengan sigap mengarahkan Dr. Siti Rohmah Nurhayati menuju ruang perkuliahan B08-2-BK34 serta membantu koordinasi logistik kecil yang memastikan kelancaran sesi. Namun, kontribusi terbesar mereka terletak pada partisipasi akademik. Selain mengikuti kuliah Educational Psychology, mahasiswa UNY juga berbaur dengan rekan-rekan mereka dari UPSI dalam sesi perkuliahan lain, seperti KSH2013 Clinical Psychology dan KSY3603 Substance Abuse. Keterlibatan ini memberikan mereka paparan langsung terhadap metode pengajaran, kurikulum, dan gaya diskusi yang berlaku di universitas mitra, sebuah pengalaman berharga yang tidak bisa didapatkan hanya dari ruang kelas di dalam negeri.

Secara paralel, jajaran tenaga kependidikan dari Fakultas Psikologi UNY juga menjalankan agenda strategis. Pada 2 April 2026, pukul 10.00 hingga 13.00 waktu setempat, mereka mengikuti sesi Administrative Staff Mobility and Sharing Session yang berlangsung di Bilik Mesyuarat Profesional, UPSI. Dalam forum tertutup namun produktif ini, staf UNY dan staf UPSI saling bertukar wawasan mengenai manajemen administrasi keuangan, sistem pengarsipan digital, serta strategi layanan akademik yang efisien. Pertukaran praktik baik (best practices) ini sangat krusial untuk meningkatkan kualitas tata kelola di kedua institusi agar setara dengan standar universitas kelas dunia.

Untuk melengkapi wawasan peserta, pihak tuan rumah UPSI juga menggelar tur kampus yang komprehensif. Rombongan UNY diajak menjelajahi Perpustakaan Tuanku Bainun yang megah, sebuah ikon arsitektur modern dengan koleksi literatur yang kaya, serta mengunjungi Museum Pendidikan Nasional UPSI. Kunjungan ini bukan sekadar rekreasi, melainkan upaya untuk memahami filosofi pendidikan dan sejarah perkembangan keguruan di Malaysia, yang menjadi akar identitas UPSI. Dengan demikian, program ini berhasil membangun jembatan pemahaman yang kokoh, tidak hanya di tataran keilmuan psikologi, tetapi juga di bidang manajemen pendidikan tinggi dan pemahaman lintas budaya.