Dari Fakultas Psikologi ke Gelombang Radio: Guardian of the Future Suarakan Gerakan Anti-Bullying

YOGYAKARTA — Upaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, inklusif, dan suportif bagi peserta didik terus dilakukan melalui berbagai pendekatan. Salah satunya diwujudkan oleh mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) yang tergabung dalam tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Pengabdian kepada Masyarakat (PKM-PM) Guardian of the Future. Pada Kamis, 27 Agustus 2026, tim tersebut turut menyebarluaskan edukasi mengenai pencegahan bullying melalui siaran Radio Edukasi BBGTK DIY.

Siaran tersebut menjadi bagian dari rangkaian diseminasi program Guardian of the Future sekaligus menjadi ruang bagi mahasiswa untuk memperluas jangkauan edukasi mengenai pencegahan perundungan. Tidak hanya menyampaikan informasi mengenai bullying, tim juga memperkenalkan pendekatan yang dikembangkan melalui program dengan menempatkan peserta didik sebagai bagian aktif dari upaya menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman dan sehat secara sosial maupun psikologis. Dalam sesi Intermezo Radio Edukasi BBGTK DIY yang dipandu oleh Kak Fifah dan Kak Yuda, tim Guardian of the Future diwakili oleh Daffina Titania Alfanda dari Fakultas Psikologi UNY selaku penanggung jawab kegiatan bersama Alfisyah dari Program Studi Bimbingan dan Konseling. Keduanya memperkenalkan latar belakang, gagasan, tujuan, serta rangkaian kegiatan yang dikembangkan dalam program tersebut kepada para pendengar.

Membicarakan Bullying dari Perspektif Psikologis dan Pendidikan

Diskusi dalam siaran diawali dengan pembahasan mengenai persoalan bullying yang masih menjadi salah satu tantangan dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang aman bagi peserta didik. Perundungan bukan sekadar persoalan interaksi antarsiswa, tetapi dapat berkaitan dengan kondisi psikologis, hubungan sosial, rasa aman, serta pengalaman peserta didik dalam menjalani kehidupan sekolah. Karena itu, upaya pencegahan bullying perlu dilakukan secara sistematis dan tidak hanya berfokus pada penanganan ketika peristiwa perundungan telah terjadi. Lingkungan sekolah perlu membangun budaya yang mendorong kepedulian, empati, komunikasi yang sehat, serta keberanian untuk mengambil tindakan ketika menemukan perilaku yang berpotensi merugikan orang lain. Perspektif tersebut menjadi salah satu dasar pengembangan Guardian of the Future. Program ini berupaya mendorong keterlibatan siswa sebagai bagian dari mekanisme pencegahan bullying di lingkungan sekolah. Dengan demikian, siswa tidak hanya diposisikan sebagai penerima informasi, tetapi juga sebagai individu yang memiliki kapasitas untuk berkontribusi dalam menciptakan lingkungan sosial yang lebih positif.

Peer Educator: Menguatkan Peran Teman Sebaya

Salah satu gagasan utama yang diperkenalkan melalui Guardian of the Future adalah penguatan peran peer educator atau pendidik sebaya. Melalui pendekatan ini, siswa dipersiapkan untuk memiliki pengetahuan dan keterampilan dasar yang dapat mendukung upaya pencegahan bullying di lingkungan mereka. Kehadiran peer educator menjadi penting karena kehidupan remaja sangat lekat dengan relasi teman sebaya. Teman sebaya dapat menjadi pihak yang lebih dekat dengan keseharian siswa, termasuk ketika seorang siswa menghadapi persoalan sosial, mengalami tekanan, atau membutuhkan dukungan awal. Dalam konteks pencegahan bullying, peer educator tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran guru, konselor, psikolog, maupun pihak profesional lainnya. Sebaliknya, keberadaan mereka diharapkan menjadi bagian dari jejaring dukungan di lingkungan sekolah. Mereka dapat membantu menumbuhkan kepedulian, menjadi teman untuk berbagi, mengenali situasi yang membutuhkan perhatian, serta mendorong siswa untuk mencari bantuan kepada pihak yang tepat ketika menghadapi persoalan yang lebih serius. Pendekatan tersebut menekankan bahwa pencegahan bullying merupakan tanggung jawab bersama. Sekolah, guru, orang tua, tenaga pendidik, dan siswa memiliki peran masing-masing dalam membangun lingkungan yang memungkinkan setiap peserta didik merasa dihargai, diterima, dan aman.

Kolaborasi Lintas Disiplin untuk Lingkungan Pendidikan yang Aman

Program Guardian of the Future dikembangkan oleh tim mahasiswa lintas program studi. Keterlibatan mahasiswa Fakultas Psikologi UNY memberikan penguatan pada aspek psikologis dalam program, khususnya berkaitan dengan empati, dukungan sosial, relasi interpersonal, serta pentingnya menciptakan rasa aman secara psikologis bagi peserta didik. Sementara itu, kolaborasi dengan mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling memperkaya pendekatan program dari perspektif pendampingan dan pengembangan kapasitas siswa. Pertemuan kedua bidang tersebut memungkinkan isu bullying dipandang tidak hanya sebagai persoalan perilaku, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika psikologis dan sosial yang membutuhkan pendekatan edukatif serta preventif. Kolaborasi lintas disiplin menjadi salah satu kekuatan Guardian of the Future. Permasalahan di lingkungan pendidikan pada dasarnya bersifat multidimensional sehingga membutuhkan kerja sama berbagai pihak dan perspektif. Melalui kolaborasi mahasiswa, pengetahuan akademik dapat diterjemahkan menjadi kegiatan pengabdian yang lebih dekat dengan kebutuhan nyata di lingkungan pendidikan.

Radio sebagai Ruang Diseminasi dan Edukasi Publik

Kehadiran Guardian of the Future dalam siaran Radio Edukasi BBGTK DIY juga menunjukkan pentingnya pemanfaatan media komunikasi dalam memperluas dampak kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Edukasi yang sebelumnya dilakukan melalui kegiatan program dapat menjangkau audiens yang lebih luas melalui media radio. Diseminasi melalui radio memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk mengenal gagasan yang dikembangkan oleh mahasiswa sekaligus membuka ruang percakapan mengenai pentingnya pencegahan bullying. Media seperti ini dapat menjadi jembatan antara gagasan akademik dan kebutuhan masyarakat, khususnya dalam menyampaikan isu psikologis dan pendidikan dengan bahasa yang lebih mudah dipahami. Lebih dari sekadar menyampaikan informasi, siaran tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif bahwa pencegahan bullying membutuhkan keterlibatan berbagai elemen dalam ekosistem pendidikan. Pengetahuan mengenai bullying perlu diterjemahkan menjadi kepedulian dan tindakan nyata agar tercipta perubahan pada budaya interaksi di lingkungan sekolah.

Mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Upaya yang dilakukan melalui Guardian of the Future juga sejalan dengan semangat Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 3: Good Health and Well-being, SDG 4: Quality Education, dan SDG 16: Peace, Justice and Strong Institutions. Melalui penguatan lingkungan sekolah yang aman secara psikologis dan sosial, program ini berkontribusi terhadap SDG 3 dengan mendorong perhatian terhadap kesejahteraan peserta didik. Lingkungan pendidikan yang suportif merupakan salah satu elemen penting agar siswa dapat berkembang dan menjalani proses pendidikan tanpa rasa takut akibat perilaku perundungan.

Program ini juga memiliki keterkaitan erat dengan SDG 4, terutama dalam upaya mendukung pendidikan yang inklusif dan berkualitas. Lingkungan belajar yang aman merupakan bagian penting dari terciptanya pengalaman pendidikan yang memungkinkan setiap peserta didik berpartisipasi secara optimal, tanpa mengalami diskriminasi atau kekerasan dari lingkungan sosialnya. Sementara itu, penguatan budaya saling menghormati, kepedulian, partisipasi siswa, serta pencegahan kekerasan di lingkungan pendidikan sejalan dengan semangat SDG 16 yang mendorong terciptanya masyarakat yang damai dan inklusif. Dalam lingkup sekolah, nilai-nilai tersebut dapat diterjemahkan melalui pembangunan relasi sosial yang sehat, penyelesaian persoalan secara konstruktif, dan keterlibatan aktif warga sekolah dalam menciptakan lingkungan yang aman. Dengan demikian, pencegahan bullying tidak hanya menjadi agenda perlindungan peserta didik, tetapi juga menjadi bagian dari upaya yang lebih luas untuk membangun generasi yang mampu menghargai perbedaan, menunjukkan empati, dan berkontribusi terhadap lingkungan sosial yang lebih inklusif.

Dari Edukasi Menuju Gerakan Bersama

Melalui Guardian of the Future, mahasiswa Fakultas Psikologi UNY dan tim lintas program studi berupaya membawa isu pencegahan bullying lebih dekat dengan kehidupan peserta didik. Kehadiran mereka di Radio Edukasi BBGTK DIY menjadi salah satu langkah untuk memastikan bahwa pesan tersebut tidak berhenti di ruang kegiatan, tetapi dapat terus disebarluaskan kepada masyarakat yang lebih luas. Tim berharap edukasi mengenai bullying tidak berhenti pada peningkatan pengetahuan semata. Lebih jauh, edukasi diharapkan dapat menumbuhkan keberanian untuk peduli, kemampuan untuk mengenali perilaku perundungan, serta kesadaran untuk mengambil peran ketika menemukan situasi yang membutuhkan perhatian. Penguatan peer educator menjadi salah satu upaya untuk membangun budaya tersebut dari lingkungan siswa sendiri. Dengan dukungan sekolah dan pendampingan dari pihak yang kompeten, siswa dapat menjadi bagian dari jejaring sosial yang saling mendukung dan mendorong terciptanya interaksi yang lebih sehat. Pada akhirnya, Guardian of the Future membawa sebuah pesan bahwa menciptakan sekolah yang bebas dari bullying bukan pekerjaan satu pihak. Dibutuhkan keberanian untuk bersuara, kepedulian untuk saling menjaga, serta kolaborasi antara siswa, pendidik, keluarga, dan berbagai pihak terkait. Dari lingkungan kampus, gagasan tersebut kemudian dibawa ke ruang publik melalui gelombang radio. Dari edukasi, diharapkan tumbuh kepedulian. Dari kepedulian, diharapkan lahir keberanian untuk bertindak. Karena menciptakan lingkungan pendidikan yang aman bukan hanya tentang menghentikan bullying, tetapi juga tentang membangun budaya yang membuat setiap siswa merasa dihargai, didengar, dan tidak sendirian.